
From Ridge to Reef, Connecting Nature & Communities
Ridge-to-Reef Integrated Governance Connecting Forest, River, Coastal, and Marine Governance in Berau Landscape. Pendekatan tata kelola terintegrasi dari kawasan hulu hingga pesisir untuk memperkuat pengelolaan lingkungan, masyarakat, dan ekosistem Coral Triangle di Kabupaten Berau. Didukung melalui kolaborasi multipihak, penguatan tata kelola wilayah, dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.
Executive Summary
YALIRA bersama para mitra mendorong pendekatan Ridge-to-Reef Integrated Governance sebagai model pengelolaan wilayah yang menghubungkan kawasan hulu, daerah aliran sungai, pesisir, hingga ekosistem laut dalam satu sistem yang saling terintegrasi.
Kabupaten Berau berada pada pertemuan dua ekosistem penting dunia: Heart of Borneo dan Coral Triangle — kawasan laut dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Keterhubungan antara kawasan hulu dan pesisir menjadikan kondisi sungai, sedimentasi, dan tata kelola wilayah darat memiliki pengaruh langsung terhadap kesehatan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang di Berau.
Namun, tekanan akibat perubahan penggunaan lahan, sedimentasi, aktivitas industri, serta lemahnya integrasi tata kelola wilayah meningkatkan risiko terhadap kualitas air, kawasan pesisir, dan keberlangsungan ekosistem laut di Coral Triangle. Sistem pengelolaan darat dan pesisir masih berjalan secara terpisah, sementara dampak ekologis yang terjadi saling terhubung.
Melalui pendekatan Integrated River Basin Management (IRBM), Integrated Coastal Management (ICM), dan metode pemberdayaan masyarakat berbasis SIGAP/ABCD, program ini mendorong tata kelola wilayah yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan berbasis keterhubungan ekosistem dari hulu hingga laut. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada perlindungan lingkungan, tetapi juga pada penguatan tata kelola, pemulihan kawasan, pengembangan ekonomi masyarakat, serta perlindungan ekosistem pesisir dan laut sebagai bagian penting dari Coral Triangle.
Project Concept : Menghubungkan Hulu hingga Coral Triangle
Kabupaten Berau berada pada pertemuan unik dua ekosistem kelas dunia — Heart of Borneo dan Coral Triangle. Pendekatan Ridge-to-Reef melihat kawasan hulu, sungai, pesisir, dan laut bukan sebagai zona terpisah, melainkan satu sistem yang saling memengaruhi dan harus dikelola secara terintegrasi. Program ini mengintegrasikan IRBM, ICM, dan SIGAP/ABCD dalam satu kerangka tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, komunitas, sektor swasta, dan mitra internasional.

DPSIR Analysis : Understanding Ridge-to-Reef System Dynamics
Pendekatan DPSIR (Drivers, Pressures, State, Impacts, Responses) digunakan untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia, perubahan lingkungan, dan dampaknya terhadap sistem ekologis dari hulu hingga pesisir.
- Drivers – Faktor Pendorong : Ekspansi pertambangan; Perubahan penggunaan lahan; Perkebunan skala besar; Pembukaan kawasan hutan; Lemahnya integrasi tata kelola wilayah
- Pressures — Tekanan terhadap Ekosistem : Sedimentasi sungai; Degradasi kawasan riparian; Penurunan tutupan hutan; Limpasan kawasan pertanian; Penurunan fungsi mangrove
- State — Kondisi Lingkungan : Meningkatnya kekeruhan air; Sedimentasi kawasan pesisir; Fragmentasi habitat; Penurunan kualitas mangrove; Gangguan ekosistem terumbu karang
- Impacts — Dampak terhadap Wilayah & Masyarakat : Gangguan layanan air bersih; Meningkatnya biaya pengelolaan air; Penurunan produktivitas perikanan; Kerusakan kawasan pesisir; Risiko sosial dan lingkungan masyarakat
- Responses — Pendekatan yang Didorong : Integrated River Basin Management (IRBM) : Integrated Coastal Management (ICM); SIGAP / ABCD Facilitation; Tata kelola lintas sektor; Community stewardship; Pendekatan kolaboratif berbasis wilayah
System Iceberg : Melihat Masalah di Balik Permukaan
Pendekatan System Iceberg membantu memahami bahwa persoalan lingkungan bukan hanya peristiwa yang terlihat di permukaan, tetapi dipengaruhi oleh pola, struktur, dan sistem tata kelola yang lebih dalam.
- Events — Peristiwa yang Terlihat : Kekeruhan air meningkat; Sedimentasi pesisir; Penurunan hasil perikanan; Coral bleaching; Gangguan layanan air bersih
- Patterns & Trends — Pola yang Berulang : Sedimentasi meningkat setiap tahun; Penurunan kualitas kawasan riparian; Berkurangnya kawasan mangrove; Tekanan terhadap kawasan pesisir; Biaya pengelolaan air terus meningkat
- Underlying Structures — Struktur Sistem yang Mendasari : Tata kelola hulu dan pesisir belum terintegrasi; Pengelolaan sungai dan laut masih terpisah; Minimnya mekanisme insentif lingkungan; Pengetahuan lokal belum optimal dalam perencanaan wilayah
- Mental Models — Cara Pandang yang Perlu Diubah : Pendekatan Ridge-to-Reef mendorong perubahan cara pandang bahwa kawasan hulu, sungai, pesisir, dan laut bukan sistem yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang saling terhubung
Causal Loop Diagram : Understanding Environmental Governance Dynamics
Diagram berikut menggambarkan bagaimana aktivitas di kawasan hulu, tata kelola wilayah, kondisi ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat saling terhubung dalam sistem Ridge-to-Reef. Memahami hubungan sebab-akibat ini adalah kunci untuk merancang intervensi yang efektif dan berkelanjutan.

FPIC Process : Free, Prior and Informed Consent
Pendekatan FPIC dilakukan untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang cukup, terlibat dalam proses pengambilan keputusan, dan memiliki ruang partisipasi dalam setiap tahapan program.

Disclosure: Keterbukaan Informasi kepada Masyarakat

Define: Identifikasi Kebutuhan & Prioritas Bersama
SIGAP 7D Facilitation Process : Pendekatan Pendampingan Berbasis Komunitas
Program ini menggunakan pendekatan SIGAP / ABCD (Asset-Based Community Development) — sebuah siklus fasilitasi 7 tahap yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama perubahan, bukan sekadar penerima program. Pendekatan ini mengintegrasikan tata kelola desa, ekonomi lokal, dan pengelolaan sumber daya alam menuju komunitas yang tangguh dan mandiri.

Aksi Nyata: Kolaborasi Konservasi Air Bersama Para Pihak
YALIRA bersama PDAM Batiwakkal Berau berkomitmen untuk turut berkontribusi dalam upaya konservasi air di Kabupaten Berau. Kolaborasi ini dibangun atas keyakinan bahwa menjaga kualitas air — dari hulu hingga ke rumah warga — adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan multipihak.



Expected Transformation : Target Perubahan yang Diharapkan
Melalui pendekatan Ridge-to-Reef Integrated Governance, program ini diharapkan mampu mendorong :
- Penguatan tata kelola wilayah hulu hingga pesisir
- Penurunan sedimentasi dan tekanan lingkungan
- Perlindungan kawasan mangrove dan pesisir
- Penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan wilayah
- Pengembangan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan
- Peningkatan kolaborasi multipihak
- Perlindungan ekosistem Coral Triangle
- Penguatan ketahanan sosial dan lingkungan masyarakat
